Kontroversi Analisa Sidik Jari

Di masyarakat sudah terbentuk paradigma yang kurang tepat, terutama dilakukan oleh para penyedia jasa analisa sidik jari yang mengatakan bahwa analisa karakter hanya perlu dilakukan sekali seumur hidup.  Pada kenyataan sebenarnya kita butuh mengetahui kondisi mental dan karakter kita pada tahap-tahap tertentu disaat kita harus menentukan dan mengambil sebuah keputusan yang vital bagi masa depan.

Finger ColorfulBanyak sekali kontroversi mengenai sidik jari yang cukup fenomenal di awal abad ke 20 ini dimana hasil dari analisa didasari oleh testimoni dari klien yang sesuai dengan kaidah ilmu psikologi tidak dapat dibenarkan. Manusia dapat berubah sesuai dengan dasar ilmu antropologi untuk mempertahankan eksistensi diri pada lingkungannya. Menurut ilmu psikologi,  manusia juga mampu beradaptasi pada lingkungan, mengubah perilaku, serta meningkatkan kemampuan dasarnya dengan stimulasi yang tepat.

Mr. Finger1Pada umumnya analisa fingerprint memiliki beberapa dasar yang kita sebut sebagai “Pseudo Science” yaitu sebuah data ilmiah yang tidak ada pembuktian secara jelas. Beberapa hal dibawah ini seringkali digunakan sebagai dasar yang salah dalam analisa sidik jari :

  • Fungsi otak kiri dan kanan : manusia dalam melakukan seluruh tindakannya menggunakan kedua belahan otak secara simultan atau bersamaan, jadi tidak tepat sebuah teori mengatakan otak kiri ataau kanan saja.
  • Hubungan syaraf antara Sidik Jari dengan bagian Lobus otak, contoh : ibu jari dengan lobuk pre-frontal.  Jika kita kehilangan ibu jari apakah kita kehilangan fungsi dari otak pre-frontal kita ?
  • Seringkali juga kita mendengar kait tentang hubungan NGF ( Nerve Growth Factor ) dan EGF ( Epidermal Growth Factor ) yang desertai profile Pemenang Nobel Fisika.  Kerancuannya terjadi dikarenakan secara awam kita terkadang tidak menyadari bahwa Epidermal adalah bahasa Inggris dari “Kulit” tetapi bukan secara spesifik menyebutkan “Sidik Jari”.
  • Menyatakan bahwa analisa fingerprint merupakan pengukuran dimana sebenarnya semua analisa fingerprint menggunakan metode “Dikotomi” atau penggolongan. Jadi bila ada seseorang yang memiliki pola sidik jari yang sama maka secara universal dapat dikatakan bahwa mereka memiliki potensi dan karakter yang sama.
  • Menyatakan bahwa analisa sidik jari valid untuk semua usia subyek untuk memetakan potensi dan karakter dimana keterlibatan faktor eksternal seperti lingkungan, peran keluarga, stimulus, pendidikan, tuntutan pekerjaan, dll, diabaikan begitu saja.

Mr. Finger2

Perbedaannya, di Equity kami menggunakan pengambilan data dengan sidik jari sesuai dengan psikometri psikologi data riset kami yaitu untuk usia maksimal 8 tahun atau anak yang secara perkembangan kognitif dan mental masih dalam tahap pra operasional.  Sedangkan untuk anak yang sudah masuk pada tahap operasional (± diatas 8 tahun) kami menggunakan metode kuesioner untuk memperoleh perilaku sehari – hari. Perbedaan dari 2 jenis pengambilan data tersebut adalah untuk mendapatkan hasil analisa karakter yang berbeda.